
Jakarta – Teh memang bisa menjadi pilihan minuman sehari-hari karena mengandung berbagai senyawa bioaktif. Namun, cara menyeduh dan waktu mengonsumsinya juga perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan keluhan pada sebagian orang.
Menambahkan terlalu banyak gula, menyeduh teh secara berlebihan, atau meminumnya pada waktu yang kurang tepat dapat membuat manfaatnya tidak optimal. Beberapa kebiasaan bahkan bisa mengganggu kenyamanan pencernaan dan memengaruhi penyerapan zat gizi tertentu.
Dikutip dari Times of India, berikut sejumlah kesalahan yang sebaiknya dihindari ketika minum teh:
1. Membiarkan teh terendam terlalu lama
Durasi penyeduhan memengaruhi rasa sekaligus jumlah senyawa yang terekstrak dari daun teh. Semakin lama teh direndam, rasa yang dihasilkan umumnya semakin pekat dan pahit.
Kandungan kafein dan tanin juga dapat meningkat seiring waktu penyeduhan. Pada orang yang sensitif, teh yang terlalu pekat dapat memicu rasa tidak nyaman pada lambung.
Lama penyeduhan ideal bergantung pada jenis teh. Teh hijau umumnya cukup diseduh sekitar 1-3 menit dengan air yang tidak terlalu panas, sedangkan teh hitam biasanya membutuhkan waktu lebih lama. Teh celup juga tidak harus direndam terlalu lama untuk mendapatkan rasa yang optimal.
2. Menjadikan teh sebagai minuman pertama saat perut kosong
Sebagian orang mungkin merasa kurang nyaman setelah minum teh sebelum makan. Kafein dan senyawa dalam teh dapat memicu keluhan seperti mual, perut terasa penuh, atau sensasi asam pada individu tertentu.
Karena itu, orang yang memiliki lambung sensitif dapat mencoba mengonsumsi makanan terlebih dahulu sebelum minum teh. Cara ini juga membantu mengurangi kemungkinan munculnya rasa tidak nyaman setelah minum teh.
3. Menambahkan gula secara berlebihan
Teh yang sebenarnya rendah kalori bisa berubah menjadi minuman tinggi gula jika ditambahkan terlalu banyak gula, sirup, atau pemanis lainnya.
Asupan gula tambahan yang berlebihan dapat meningkatkan total kalori harian dan dalam jangka panjang berkontribusi terhadap berbagai masalah metabolik. Karena itu, biasakan menggunakan gula secukupnya atau memilih teh tanpa gula.
Jika ingin menambah rasa, bahan seperti kayu manis atau irisan lemon bisa menjadi alternatif tanpa harus menambahkan banyak gula.
4. Mengonsumsi teh dalam jumlah terlalu banyak
Teh mengandung kafein, meski jumlahnya berbeda-beda tergantung jenis dan cara penyeduhan. Mengonsumsinya dalam jumlah berlebihan dapat menyebabkan efek seperti gelisah, jantung berdebar, sakit kepala, atau sulit tidur pada orang yang sensitif.
Batas toleransi setiap orang juga tidak sama. Jadi, bukan hanya jumlah cangkir yang perlu diperhatikan, tetapi juga total asupan kafein dari minuman lain sepanjang hari.
Jika setelah minum teh muncul keluhan tertentu, mengurangi jumlah atau memilih jenis teh rendah kafein dapat menjadi pilihan.
5. Minum teh terlalu dekat dengan waktu makan
Teh mengandung polifenol, termasuk tanin, yang dapat mengurangi penyerapan zat besi non-heme dari makanan. Hal ini terutama perlu diperhatikan oleh orang yang mengandalkan sumber nabati untuk memenuhi kebutuhan zat besi atau berisiko mengalami kekurangan zat besi.
Karena itu, memberi jeda antara waktu makan dan minum teh dapat menjadi langkah yang lebih aman, terutama saat mengonsumsi makanan yang menjadi sumber utama zat besi.
Selain waktu minum, jenis makanan yang dikonsumsi juga berpengaruh terhadap penyerapan mineral. Misalnya, vitamin C justru dapat membantu meningkatkan penyerapan zat besi dari sumber nabati.
Teh tetap bisa menjadi bagian dari pola makan sehat
Minum teh tidak harus dihindari. Kuncinya adalah memperhatikan cara penyeduhan, jumlah konsumsi, kadar gula, serta waktu menikmatinya.
Bila tubuh terasa nyaman, teh tanpa banyak gula dapat menjadi pilihan minuman sehari-hari. Namun, bagi orang yang memiliki gangguan lambung, sensitif terhadap kafein, atau memiliki masalah kekurangan zat besi, kebiasaan minum teh sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
