
Insiden tumpahan batu bara di kawasan Pantai Pangandaran diduga telah memengaruhi kualitas lingkungan perairan. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium sementara, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat menemukan indikasi kuat adanya perubahan pada kondisi fisik maupun kimia air laut di lokasi terdampak.
Kepala DLH Jawa Barat, Ai Saadiyah Dwidaningsih, menjelaskan bahwa material batu bara yang terbawa ombak mengalami proses penghancuran menjadi partikel-partikel halus. Kondisi tersebut memicu peningkatan kekeruhan air sekaligus membuat warna laut tampak lebih gelap.
Air Laut Menjadi Keruh dan Cahaya Sulit Menembus Dasar
Menurut Ai, pecahan batu bara yang berukuran sangat kecil sulit terurai secara alami sehingga terus tersuspensi di dalam air laut. Akibatnya, sinar matahari tidak dapat menembus hingga ke dasar perairan secara optimal.
Hasil pengukuran di sekitar lokasi tongkang juga menunjukkan tingkat kecerahan air jauh lebih rendah dibandingkan wilayah pembanding di kawasan pelabuhan.
Kadar Oksigen Menurun
Selain perubahan secara fisik, kualitas kimia air laut juga mengalami penurunan. Hasil pengujian sementara memperlihatkan kadar oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO) berada di bawah baku mutu yang ditetapkan.
Penurunan oksigen tersebut berpotensi mengganggu kehidupan organisme laut karena kemampuan perairan dalam menopang biota menjadi berkurang. Dampaknya dapat dirasakan nelayan melalui hasil tangkapan yang menurun, sekaligus memengaruhi keberlangsungan budidaya perikanan dan hatchery di sekitar lokasi.
Sedimen Mengandung Logam Berat
Walaupun kandungan logam terlarut di air masih berada di bawah ambang batas, hasil analisis terhadap sedimen dasar laut menunjukkan temuan yang lebih mengkhawatirkan.
Tim laboratorium menemukan kadar logam berat seperti arsen, krom, nikel, timbal, kadmium, hingga merkuri dalam sedimen. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa sebagian batu bara telah mengendap di dasar perairan.
DLH mengingatkan, endapan batu bara yang berada terlalu lama di dasar laut berpotensi melepaskan logam berat melalui proses pelindian (leaching). Jika tidak segera ditangani, konsentrasi berbagai logam berbahaya diperkirakan dapat meningkat dan memperbesar risiko pencemaran lingkungan.
Pemerintah Siapkan Langkah Penanganan
Sebagai tindak lanjut, pemerintah berencana melakukan evakuasi bangkai kapal yang diduga berkaitan dengan insiden tersebut sebagai langkah awal pemulihan kawasan terdampak.
Selain itu, tim ahli akan melakukan kajian untuk menghitung besarnya kerusakan lingkungan sekaligus menaksir kerugian sosial dan ekonomi yang dialami masyarakat.
Di sisi lain, Direktorat Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH juga akan menyiapkan langkah hukum guna meminta pertanggungjawaban atas dugaan pencemaran yang terjadi.
Sementara itu, proses analisis laboratorium masih terus dilakukan pada sejumlah titik pengambilan sampel lainnya untuk mengetahui sebaran polutan secara lebih menyeluruh serta menjadi dasar penyusunan langkah pemulihan lingkungan berikutnya.
