
Jakarta – Kasus dugaan keracunan makanan setelah mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perhatian. Sejumlah siswa dilaporkan mengalami keluhan seperti mual dan muntah setelah menyantap makanan dari program tersebut.
Pemerintah pun telah menanggapi kejadian ini. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan pihak pemerintah telah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) terkait kasus yang terjadi di sejumlah daerah.
“Kami atas nama pemerintahan dan mewakili BGN memohon maaf karena telah terjadi kembali beberapa kasus di beberapa daerah yang tentu saja itu bukan yang diharapkan atau bukan suatu kesengajaan,” ujar Prasetyo Hadi.
Keracunan makanan sendiri dapat terjadi ketika seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri, virus, parasit, maupun racun tertentu. Mengutip Yale Medicine, gejala yang paling sering muncul antara lain diare, muntah, sakit perut, dan terkadang demam.
Waktu munculnya gejala bisa berbeda-beda. Ada yang merasakan keluhan tidak lama setelah makan, sementara pada kasus lain gejala baru muncul beberapa waktu kemudian, tergantung jenis mikroorganisme atau zat penyebabnya.
Jika mengalami keracunan makanan, ada sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk membantu tubuh melewati masa pemulihan.
1. Utamakan Mengganti Cairan Tubuh
Muntah dan diare dapat menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan. Karena itu, menjaga tubuh tetap terhidrasi menjadi salah satu hal terpenting yang perlu dilakukan.
Karen Jubanyik, MD, spesialis Unit Gawat Darurat Yale Medicine, menyebut asupan cairan perlu menjadi perhatian, terutama dalam 24 jam pertama ketika muntah dan diare masih terjadi.
Air putih dapat diminum secara bertahap untuk membantu mengganti cairan yang hilang. Jika tersedia, larutan elektrolit juga dapat dikonsumsi untuk membantu menggantikan cairan sekaligus mineral tubuh.
Sebaliknya, minuman olahraga atau minuman berenergi bukan pilihan utama untuk menangani dehidrasi akibat keracunan makanan karena tidak dirancang khusus sebagai larutan rehidrasi.
2. Jangan Langsung Kembali ke Pola Makan Biasa
Saat sistem pencernaan masih mengalami gangguan, makanan tertentu sebaiknya dihindari sementara. Makanan yang berminyak, pedas, serta produk susu dapat membuat keluhan pencernaan terasa lebih berat pada sebagian orang.
Tidak perlu memaksakan diri makan dalam jumlah banyak ketika masih mual atau muntah. Dr. Jubanyik menjelaskan bahwa orang sehat umumnya memiliki cadangan energi tubuh yang cukup sehingga tidak makan secara normal selama satu atau dua hari bukanlah persoalan utama.
Setelah kondisi mulai membaik, makanan dapat diperkenalkan kembali secara bertahap sesuai kemampuan tubuh.
3. Berikan Tubuh Waktu untuk Beristirahat
Selain mencukupi cairan, istirahat juga penting selama masa pemulihan. Tubuh membutuhkan energi untuk menghadapi infeksi atau racun yang menjadi penyebab gangguan pencernaan.
Sebagian besar kasus keracunan makanan dapat membaik dengan perawatan yang tepat. Namun, jangan mengabaikan gejala yang berlangsung terlalu lama atau semakin berat.
Jika keluhan tidak membaik setelah 2-3 hari, atau muncul tanda seperti darah dalam tinja, muntah berulang, maupun dehidrasi berat, segera cari bantuan medis.
Pentingnya Keamanan Makanan MBG
Kasus dugaan keracunan makanan juga menjadi pengingat bahwa keamanan pangan perlu diperhatikan sejak bahan makanan diterima hingga makanan dikonsumsi.
Dalam penyelenggaraan MBG, aspek seperti kebersihan dapur, pemeriksaan bahan baku, penyimpanan makanan, proses pengolahan, hingga distribusi perlu mendapat perhatian serius.
Edukasi mengenai cara mengolah dan menyimpan makanan secara aman juga penting diberikan kepada pengelola maupun masyarakat. Dengan penerapan standar kebersihan yang konsisten, risiko kontaminasi makanan dapat ditekan dan makanan yang disajikan dapat lebih aman untuk dikonsumsi.
